Jejak diAtas Kertas: Sidik Jari Pekerja Perkebunan

Wisata ke Museum Perkebunan yukk... dan kesan apa yang didapat saat mengunjungi Museum ??😮. 

Wisata ke Museum ngapain sih ? emang seru ?
Seru gak yaaaa, seru lahhh..

Kita jadi mengetahui cerita sejarah dan peristiwa yang terjadi pada zaman sebelumnya, jadi itulah keseruan yang didapat dari berwisata ke Museum, gimana ? tertarik dan penasaran kah ?

Tanggal 15 November 2025 ada pameran Memori Sidik Jari Museum Perkebunan Indonesia-2. Awalnya aku berekspektasi kalau masuk Museum perkebunan pasti bakal banyak pajangan dan informasi seputar perkebunan, seperti tanaman apa saja, tapi kali ini beda karena ada cerita tentang Sidik Jari dari para pekerja. Waaahhh semakin membuat aku penasaran, apa benar sidik jari masih terdokumentasi dengan baik?

Museum Perkebunana Indonesia atau yang lebih akrab dikenal dengan sebutan (MUSPERIN-2) dan gedung museum dulunya adalah kantor AVROS (Algemeene Vereeniging van Rubberplanters). Gedung MUSPERIN di kota MEDAN berada di 2 Lokasi yaitu di jalan Pemuda dan Jalan Brigjen Katamso, nah yang aku kunjungi ini adalah MUSPERIN-2, alamatnya terletak di Jalan Pemuda No. 10, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. (gak jauh kok, dekat sama tongkrongan anak Medan😅)

Membahas Sidik Jari, terakhir kali aku sidik jari, atau cap jempol saat pengambilan Ijazah zaman Sekolah dulu dan (kontrak kerja, hihihi) kalau saat ini sidik jari digunakan dengan cara teknologi fingerfrint digital. Ternyata zaman dahulu pada perusahaan perkebunan sidik jari digunakan sebagai tanda pengenal identitas para pekerjanya yang datang dari berbagai daerah. Informasi yang aku terima bahwa pada zaman itu, sidik jari termasuk kedalam proses rekrutmen pekerja baru atau disebut kontrak perjanjian kerja dilembar formulir.

Bagaimana cara identifikasi sidik jari pekerja pada saat itu?? Mereka menggunakan kaca pembesar untuk mengamati garis-garis sidik jari dalam proses verifikasi data identitas pekerja perkebunan. Waahhhh...sempat berfikir sebanyak itu pekerja dan mengenalinya dengan sidik jari.😧


Kaca Pembesar untuk Pemeriksaan Sidik Jari

Lembar-lembar sidik jari para pekerja perkebunan, disimpan dengan rapi seperti jejak sunyi yang menunggu untuk diingat kembali sebagai memori. Arsip bukan sekadar dokumen administrasi melainkan saksi bisu tentang bagaimana para pekerja direkrut, didata, dikontrak dalam perjanjian kerja. Bayangkan, jauh sebelum era KTP elektronik atau fingerprint digital, para pekerja perkebunan  meninggalkan identitas mereka melalui cap sidik jari pada surat perjanjian kerja. 

Melihat arsip-arsip itu membuat aku bertanya: siapa mereka? dari mana mereka berasal? dan membuat teringat pada almh. Nenek aku yang bersuku jawa dan juga merupakan mantan pekerja perkebunan tembakau, karena dari kisahnya pekerja perkebunan terbanyak berasal dari suku jawa. Aku sering ditanya suku apa, dan aku menjawab suku jawa, karena bapak jawa, tetapi ketika ditanya dari daerah jawa mana, aku pun bingung, hehehehe.😅.

Museum disulap dan memperlihatkan kita dengan segala temuan dokumennya, mengajak kita tidak hanya memandang sejarah sebagai suatu peristiwa kejadian, tetapi sebagai kisah pekerja yang jarinya meninggalkan jejak pada kertas untuk dikenang hingga hari ini.

Paling menarik dari kunjungan ke Museum adalah dengan adanya sidik jari yang dijadikan bunyian suara dari setiap garis sidik jari. arsip sidik jari diolah kembali oleh seorang seniman musik menjadi instalasi suara. Setiap garis yang terdapat pada sidik jari diterjemahkan menjadi nada, dan pengunjung dapat memainkannya dengan menekan pedal kaki yang sudah disediakan. Setiap injakan menghasilkan bunyi unik.

Instalasi suara dari Sidik Jari

Kalian sudah pernah belum berkunjung ke Museum Perkebunan Indonesia ? menjelajahi sejarah panjang industri perkebunan di Sumatra, nanti sampai dilantai empat kalian bakal melihat lonceng besar berusia puluhan tahun yang masih berbunyi hingga sekarang, dan dentangan bunyinya mengikuti jumlah jam yang tertuju karena pada saat itu, lonceng berfungsi sebagai petanda. Ayoklah, sempatkan waktu untuk datang dan rasakan sendiri pengalaman seru menjelajah museum. 

Kapan aja waktu bisa berkunjung ?
Jam buka: setiap hari pada pukul 09.00 – 17.00 WIB dan Biaya Tiket Masuknya Rp 25.000  untuk Umum / wisatawan domestik sedangkan turis asing: Rp 35.000, tenang kalian bakal dipandu tidak akan sendiri, karena kita hidup tidak sendirian,,, 😅 Apalagi, gaslah habis ke Museum mampir ke Cafe AVROS, liburan wisata alam dan wisata Museum Sejarah.


Posting Komentar

0 Komentar